SDM di Jabar Dinilai Belum Siap Hadapi MEA pada 2015




SOREANG, (PRLM).- Sumber daya manusia di Jawa Barat dinilai belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015 nanti. Soalnya, hingga kini masih banyak pedagang yang belum memiliki sertifikasi, sehingga sulit untuk bersaing dalam pasar bebas tingkat Asia Tenggara..
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar, Hening Widiatmoko mengatakan, dari sisi SDM, Indonesia jauh tertinggal dengan negara lain, seperti Tailand dan Filifina baik dari segi penguasaan bahasa Inggris, keterampilan berdagang dan sertifikasi usaha.
Dengan demikian, para pelaku ekonomi di Indonesia, khususnya di Jabar akan kewalahan menghadapi para pedagang lainnya dari berbagai negara.
“Masyarakat dari berbagai negara lain lebih siap untuk berdagang di pasar global. Dan ini bisa jadi ancaman bagi masyarakat di dalam negeri, termasuk Jabar,” katanya seusai menghadiri bursa kerja di Lapangan Upakarti, Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (25/11/2014).
Untuk mengantisipasinya, Hening mengaku terus berupaya meningkatkan kualitas SDM di Jabar. Di antaranya dengan menggelar uji kompetensi bagi para pelaku usaha meski belum dilakukan secara massal. Nantinya, para pelaku usaha tersebut akan diberikan sertifikat bertaraf nasional ataupun internasional.
Selain daya saing internasional yang masih rendah, lanjut Hening, di dalam negeri atau di daerahnya masing-masing pun masih banyak masyarakat tidak memiliki kesempatan kerja. Itu terjadi karena keterampilan yang belum memadai.
"Contohnya seperti dibeberapa daerah industri seperti Subang dan Majalangka. Warga sekitar malah tidak terserap, karena banyak industri yang memerlukan tenaga kerja dengan keterampilan dan pendidikan tertentu," katanya.
Dengan kondisi itu, kesempatan kerja dari industri tersebut lebih banyak diisi oleh warga dari luar daerah. Apalagi, hingga kini masih banyak warga lokal yang tertarik untuk bekerja di luar negeri.
Ketidaksiapan warga Jabar dalam menghadapi pasar bebas ASEAN tersebut juga dibuktikan dengan masih tingginya tingkat pengangguran. Di Jabar, menurut Hening, tingkat pengangguran tertinggi berada di Kabupaten Bogor.
''Ada sekitar 230.000 penganggur di Bogor yang didominasi angkatan kerja muda. Ini berdasarkan data tahun 2013,'' ucap Hening.
Banyaknya pengangguran di Bogor, menurut Hening, terjadi akibat banyak perusahaan formal yang menetapkan standar tinggi, sehingga tidak bisa dimasuki oleh masyarakat yang berpendidikan rendah. Sementara, tingkat pendidikan di Kabupaten Bogor saat ini terbilang masih rendah.
Selain itu, Kabupaten Bogor juga harus bersaing dengan warga Jakarta yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Akibatnya, perusahaan lebih memilih pencari kerja dari daerah -daerah sekitar yang memenuhi kualifikasi.
''Sebenarnya kalau dibilang bebannya berat karena dampak DKI Jakarta. Jadi Bogor, kabupaten Bekasi, kota bekasi, ironi kan. Ada daerah industri tapi banyak pengangguran,'' jelas Hening.
Sebagai upaya menjaring para tenaga kerja, Pemprov Jabar bekerja sama dengan Pemkab Bandung menggelar bursa kerja di Lapangan Upakarti, Soreang pada 25-27 November ini. Sebanyak 100 perusahaan menyediakan sekitar 15.000 lowongan kerja.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung Rukmana mengungkapkan, bursa kerja tersebut terbuka bagi masyarakat Kabupaten Bandung dengan tingkat pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Berbagai posisi pun ditawarkan mulai dari office boy, staf administrasi, hingga personalia.
"Perusahaan yang menjadi peserta jobfair ini bergerak di berbagai bidang, seperti garmen, tekstil, dan lainnya. Pelamar agar membawa surat lamarannya untuk dites langsung di tempat," tuturnya. (Cecep Wijaya/A-89)***







sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/306041
Get widget